Selamat Datang di Penerbit Az-Zahra Media Society
Penerbit Az-Zahra Media SocietyPenerbit Az-Zahra Media SocietyPenerbit Az-Zahra Media Society
(Senin - Sabtu)
zahramedia.society@gmail.com
Percut Sei Tuan, Sumatera Utara
Penerbit Az-Zahra Media SocietyPenerbit Az-Zahra Media SocietyPenerbit Az-Zahra Media Society

SUDAHKAH ANDA MENJADI ORANG YANG BERTAKWA?

  • Home
  • Berita
  • SUDAHKAH ANDA MENJADI ORANG YANG BERTAKWA?

Sudahkah Anda Menjadi Orang yang Bertakwa?

Oleh: Dr. H. Angga Syahputra


Makna Takwa dalam Alquran

Kata “takwa” dan seluruh turunannya (seperti taqwā, muttaqīn, ittaqullāh, tattaqūn, dll.) disebut sekitar 258 kali dalam berbagai ayat dan bentuk gramatikal di dalam Alquran. Ini menekankan betapa pentingnya menjadi orang yang bertakwa dalam agama Islam dan menjadikan takwa sebagai tujuan utama kehidupan seorang Muslim dan inti dari seluruh ajaran Alquran.

Secara bahasa Arab, kata takwa berasal dari akar kata وقى – يقي – وقاية (waqā – yaqī – wiqāyah) yang berarti, melindungi, menjaga diri dan membuat perisai. Membuat perisai dimaknakan sebagai membuat “perisai spiritual” dari murka Allah Swt.

Dalam Alquran, takwa digambarkan sebagai sikap hidup yang mencakup keimanan kepada yang gaib, mendirikan shalat, berinfak, serta keyakinan kepada hari akhir. Dengan demikian, takwa tidak hanya terkait dengan hubungan manusia dengan Allah (ibadah), tetapi juga tercermin dalam perilaku sosial, moral, dan tanggung jawab terhadap sesama.

Dalam perspektif Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan penjelasan para ulama, takwa berakar pada hati yang selalu sadar akan kehadiran Allah, sehingga seseorang berusaha berhati-hati dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Takwa menjadikan manusia jujur, sabar, pemaaf, serta cepat bertaubat ketika melakukan kesalahan. Oleh karena itu, takwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah, melainkan kesadaran spiritual yang membimbing seluruh aspek kehidupan, menjadikan iman, ibadah, dan akhlak berjalan seimbang dalam diri seorang Muslim.


Kenapa harus menjadi insan yang bertakwa?

Menjadi insan yang bertakwa merupakan tujuan utama kehidupan seorang Muslim. Hal ini ditegaskan dalam Alquran bahwa takwa adalah ukuran kemuliaan manusia di sisi Allah. Berikut alasan utama mengapa manusia harus menjadi pribadi yang bertakwa.


1. Takwa adalah standar kemuliaan manusia di hadapan Allah

Alquran menyatakan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kekayaan, kedudukan, atau keturunan, melainkan oleh tingkat ketakwaannya. Dengan takwa, manusia menempatkan dirinya pada posisi yang benar di hadapan Tuhan, yakni sebagai hamba yang taat dan sadar akan tanggung jawab moralnya.

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)


2. Takwa menjadi pedoman hidup yang menjaga manusia dari kesalahan dan kerusakan moral

Orang yang bertakwa akan selalu berusaha menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sehingga kehidupannya lebih terarah dan terhindar dari perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dalam banyak ayat Alquran dijelaskan bahwa takwa melahirkan sikap jujur, sabar, dermawan, serta mampu mengendalikan hawa nafsu.


3. Takwa mendatangkan pertolongan dan kemudahan dari Allah dalam kehidupan

Alquran menjelaskan bahwa siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari kesulitan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS. At-Thalaq: 2-3). Artinya, takwa bukan hanya bernilai spiritual, tetapi juga membawa ketenangan dan keberkahan dalam kehidupan dunia.

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ ۝٢

“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya”

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا ۝٣

“dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.”


4. Takwa merupakan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat

Dalam Alquran disebutkan bahwa sebaik-baik bekal adalah takwa. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh amal manusia pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, dan hanya ketakwaan yang menjadi penentu keselamatan serta kebahagiaan di akhirat.

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ ۝١٩٧

“Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat” (QS. Al-Baqarah: 197)

Oleh karena itu, manusia harus menjadi insan yang bertakwa karena takwa adalah inti dari ajaran Islam dan tujuan dari seluruh rangkaian ibadah. Takwa membentuk manusia yang seimbang antara iman, ibadah, dan akhlak, sehingga mampu menjalani kehidupan dengan benar di dunia sekaligus meraih kebahagiaan di akhirat.


Bagaimana ciri orang yang bertakwa?

Di bulan Ramadhan yang mulia ini, perintah melaksanakan ibadah puasa disertai harapan agar orang yang melaksanakannya menjadi orang yang bertakwa, hal ini sebagaimana tertuang di dalam Alquran Surah Al-Baqarah: 183.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dalam Alquran, orang yang bertakwa (al-muttaqīn) digambarkan dengan sejumlah karakter yang berulang dalam berbagai ayat. Ciri-ciri ini tidak hanya menyangkut ibadah ritual, tetapi juga akhlak, sosial, dan spiritual. Berikut beberapa ciri utama yang dijelaskan dalam Alquran.

1. Beriman kepada yang Gaib, Mendirikan Shalat, Gemar Berinfak dan Berbagi

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ ۝٣

“(yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 3)

Orang yang bertakwa adalah mereka yang memiliki keyakinan yang kuat terhadap hal-hal yang tidak terlihat (al-ghaib), seperti iman kepada Allah, malaikat, hari akhir, dan takdir. Keyakinan ini menjadi fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim, karena mendorongnya untuk selalu menyadari bahwa setiap perbuatan berada dalam pengawasan Allah dan akan dipertanggungjawabkan kelak.

Selain itu, orang bertakwa juga dikenal sebagai pribadi yang menegakkan shalat dengan sungguh-sungguh. Dalam penjelasan para ulama tafsir, seperti dalam Tafsir Ibn Kathir, makna iqāmat al-ṣalāh tidak sekadar melaksanakan shalat secara lahiriah, tetapi mencakup upaya menjaga waktu-waktunya, memenuhi seluruh rukun dan syaratnya dengan benar, serta menghadirkan kekhusyukan dalam pelaksanaannya.

Di samping itu, orang bertakwa tidak bersikap kikir terhadap harta yang dimilikinya. Mereka menyadari bahwa harta merupakan amanah dari Allah yang harus dimanfaatkan untuk kebaikan. Oleh karena itu, mereka gemar membantu fakir miskin, bersedekah kepada yang membutuhkan, dan menggunakan hartanya untuk berbagai bentuk kemaslahatan.


2. Beriman kepada Wahyu Allah

وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ ۝٤

“dan mereka yang beriman pada (Alquran) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat”. (QS. Al-Baqarah: 4)

Orang yang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada seluruh wahyu Allah. Mereka tidak hanya beriman kepada Alquran sebagai kitab suci terakhir, tetapi juga mengimani kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya kepada para nabi, seperti Taurat, Zabur, dan Injil.

Selain itu, orang bertakwa juga memiliki keyakinan yang kuat terhadap hari akhir. Keimanan kepada hari akhir menumbuhkan kesadaran bahwa setiap perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.


3. Berinfak di Waktu Lapang dan Sempit serta Mampu Mengendalikan Emosi dan Memaafkan

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ۝١٣٤

“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran ayat 134)

Dalam Alquran, khususnya QS. Ali Imran ayat 134, orang-orang bertakwa digambarkan sebagai mereka yang gemar berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, serta senantiasa berbuat baik kepada sesama.


4. Segera Bertaubat Ketika Berbuat Salah

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ ۝١٣٥

“Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya).” (QS. Ali Imran: 135)

Dalam Alquran dijelaskan bahwa orang bertakwa bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Namun ketika mereka terjatuh dalam dosa, mereka segera mengingat Allah, memohon ampun, dan berusaha memperbaiki diri.


5. Menepati Janji dan Bersabar

۞ لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْاۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ ٧٧

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan shalat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 177)

Ayat dalam Alquran menjelaskan bahwa hakikat kebajikan tidak hanya terbatas pada simbol atau arah lahiriah dalam beribadah, tetapi terletak pada kualitas iman dan amal seseorang.


Penutup: Takwa sebagai Kompas Kehidupan

Pada akhirnya, takwa bukan sekadar istilah religius yang indah diucapkan, tetapi sebuah tuntutan kesadaran hidup yang menembus seluruh dimensi keberadaan manusia. Alquran berulang kali mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan setiap amal, sekecil apa pun, akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Karena itu, takwa menjadi kompas moral yang menjaga manusia agar tidak tersesat oleh hawa nafsu, kekuasaan, maupun kecintaan berlebihan terhadap dunia. Tanpa takwa, ilmu dapat kehilangan arah, kekayaan dapat melahirkan kesombongan, dan kekuasaan dapat berubah menjadi penindasan.

Kesadaran inilah yang seharusnya menggugah manusia untuk menilai kembali dirinya: apakah hidup hanya dihabiskan untuk mengejar dunia yang fana, ataukah dipersiapkan sebagai perjalanan menuju kehidupan yang abadi.

Pada akhirnya, tidak ada yang akan dibawa manusia ketika kembali kepada Allah selain iman dan amal saleh yang lahir dari ketakwaan. Di hadapan pengadilan Ilahi kelak, jabatan, harta, dan kemegahan dunia tidak akan memiliki arti apa pun; yang bernilai hanyalah hati yang bertakwa dan kehidupan yang dijalani dalam ketaatan kepada-Nya.


Catatan

Penulis adalah Direktur Eksekutif Az-Zahra Research Centre
& Akademisi FEBI – UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe